Kamis, 14 Januari 2010

rumah terakhir

Teman_teman,
Ini ada sebuah kisah yang sangat inspiratif. Saya sempat membacanya berulang-ulang. ...

‎​Tukang dan Rumah Terakhir

Seorang tukang yang sangat terampil dan telah bekerja puluhan tahun ingin pensiun. Ketika ia pamit, kontraktor yang mempekerjakannya memintanya membuatkan sebuah rumah lagi. Katanya, rumah terakhir sebelum tukang itu pensiun.

Si tukang yang sudah sangat ingin pensiun, tak begitu senang mendapat tugas terakhir ini. Ia bekerja setengah hati dalam memilih material maupun mengerjakan bagian-bagian rumah itu. Pokoknya ia ingin pekerjaannya segera selesai dan bebas tugas.

Akhirnya berdirilah rumah yang tak memiliki kualitas terbaik yang sebenarnya bisa ia berikan. Begitu rumah itu jadi, segera ia serahkan kuncinya kepada si kontraktor. Namun, kontraktor itu langsung mengembalikannya lagi kepada si tukang, dengan ucapan: “Terimalah, rumah ini adalah hadiah untukmu dan keluargamu.”

Betapa menyesal si tukang, sebab ia bekerja setengah hati ketika membangun rumah itu. Jika ia tahu rumah itu akan ia tempati, pasti ia membangunnya dengan cara yang sangat berbeda!

Kehidupan yang kita bangun tiap-tiap hari (termasuk juga paguyuban alumni, perkuliahan, organisasi profesi, serta segala aspek lain dalam hidup kita), ibarat rumah yang kelak akan kita tinggali. Maka kita harus memilih bahan dan cara kerja saat membangunnya, secara bertanggungjawab dan bukan asal-asalan saja. Pertanyaannya, sudahkah kita selalu memberi pemikiran terbaik, usaha terbaik, serta keputusan terbaik ketika membangun hidup ini, sehingga kita mencapai tujuan Tuhan menciptakan kita? Kan kita tak ingin menyesal melihat hasil yang dicapai di kemudian hari!

Teman-teman, mari kita memulai tahun ini dengan melihat tujuan akhir. Mari capai tujuan akhir kita dengan pengabdian terbaik setiap hari dalam segala hal!

Tentu saja, pencapaian hal-hal terbaik harus kita lakukan dengan suasana senang hati. Bukan karena 'dikerjain' atau 'dizalimi' pihak lain.

GBu^^

buku harian ayah

Ayah dan ibu telah menikah lebih d ari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit.

Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga. Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ayah mendengarkan segala keluhan saya dan setelah itu, beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku-buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku h ari an? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu d ari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tert ari k dengan hal tersebut, mulailah saya baca Dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupaka catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."

"Anak - anak terlalu berisik, untung ada dia."

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."

Ayah menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan.

Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka menc ari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis, kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan d ari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"

Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala di malam h ari ,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."

Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba-tiba saya sadar akan rahasia d ari suatu pernikahan :

"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan d ari orang lain. Lupakan segala kesalahan d ari pihak lain."

"Try not to become a man of success,

but try to become a man of value...."

Selasa, 12 Januari 2010

new year, new spirit, new commitment

Wiiihhh.... Uda lama banget ga nulis blog.... Ga berasa uda taun baru lagiiiii..... Epi new year 2010 yah all.... Semoga di taun yang baru, kita semua punya semangat baru buat mencapai gol2 dalam hidup... GOD bless all.... ^^ Taun 2010 adalah taun pemulihan dan kelimpahan! Gw percaya banget akan hal itu, soale gw punya banyak hal yang pengen dipulihin di taun ini, juga pastinya pengen dilimpahin juga dunkz.... wkwkwk.... Ga deng, tapi asli, gw speechless ajah pas denger tema ini buat taun 2010.... Kayanya pas ajah buat semua yang pengen gw raih di taun ini, yang Insya YESUS, dengan iman, gw yakin gw pasti dapetinnya..... AMIN!!!! ^^

Tar lanjut lagi ah.... lagi banyak uneg2 deh..... hope GOD lead my way.....

GBu^^