Sabtu, 27 Maret 2010

sepotong kata bernama cinta

"Pasangan kita bukanlah sebuah piala yang kita menangkan, yang hanya kita pajang di dalam lemari.. Dia adalah tanaman yang menjadi tanggung jawab kita untuk memelihara dan menjaganya..."


Curhat dari seorang teman (cowok):

"Rasanya pernikahanku ga seperti pas pacaran dulu lagi.. Ga ada gregetnya.. Kami sudah sama2 cape pulang bekerja di sore hari.. Ngurus anak2.. Tekanan ekonomi.. Tekanan pekerjaan.. Tekanan keluarga.. Udah gitu istriku semakin ga jelas penampilannya.. Aku pulang kerja capek2, yang kulihat istriku berpenampilan berantakan, rumah berantakan, anak2 yang ribut... Rasanya udah ga seperti dulu lagi.. Rasanya cintaku kepadanya telah mati.."

Curhat teman yang lain (cewek):
"Suamiku ga seperti dulu lagi.. Dulu aku dikejar2 agar mau menikah dengannya.. sekarang dia sudah tidak menghiraukan diriku lagi.. Aku pengen disayang, dimanjakan sekali2, tapi sekarang suamiku dingin2 aja.. Dia sudah tidak sayang padaku.. Masa sekarang aku yang harus mengejar-ngejar dia? Mentang2 sudah dapat, dia jadi sewenang2 terhadapku.. ah.. rasanya cintaku kepadanya sudah mati.."

Kemudian, saya jadi teringat dengan pasangan suami istri tua yang sering lewat di depan rumah saya di pagi hari.. Mereka sering berjalan2 pagi... bergandengan tangan dengan mesra.. mengobrol dengan akrab.. kasih sayang memancar dari mereka.. Sungguh pemandangan yang menggetarkan hati...

Saya curhat kepada mereka.. Saya sungguh resah.. Apa yang salah dengan pernikahan? Kenapa suasana yang romantis dulu saat pacaran, semuanya menghilang? Kenapa angka perceraian meningkat? Kenapa banyak perselingkuhan? Kenapa semakin banyak teman2 saya yang harus menjadi single parent? Kenapa cinta yang dulu membara bisa padam? Kenapa sekarang kedua orang itu menjadi dua orang asing yang hanya terikat oleh seks, anak-anak, dan selembar akte nikah? Di mana kekeliruannya?

"Mas.." kata si bapak itu, "Kami sendiri pernah mengalami hal yang sama.. diumur 45an, kami sendiri hampir bercerai..(tersenyum kepada sang istri). Kami mengalami masa2 yang sama seperti yang mas tanyakan.. Cinta kami saat itu rasanya sudah mati..Kami sudah menjadi asing satu sama lain.."

"Tapi... kami berhasil melewati masa2 itu.. Tidak mudah memang, tapi kami berhasil.. Dan hasilnya seperti yang mas lihat sekarang.."

"Jadi, apa rahasianya pak?" tanya saya, sungguh penasaran.

"Mas, menurut kamu, cinta itu kata kerja atau kata sifat?" bapak itu dengan kalem bertanya.

"Hmmm.. kata sifat sih pak.."

"Itu dia masalahnya.. Kita sudah terlalu lama di nina bobokkan oleh cerita2 di film2, sinetron2, novel2, bahwa: cinta itu hanya kata sifat. Kita tidak bisa mengendalikannya. Kalau rasa cinta, datang, datanglah. Kalau rasa cinta pergi, ya sudahlah.. Kita tidak bisa melakukan apa2 tentang hal itu.. Kita menjadikan kata cinta sedemikian sakral, sehingga seolah2 itu adalah hal yang diluar kendali kita.."

"Mas, dalam bahasa Inggris, cinta itu: love. Kata kerja. Tanpa to be. I love u. Bukan I am love you. Cinta itu juga ada kata kerjanya. Kalau kamu ingin bisa mencintai seseorang lagi, lakukan kata kerjanya.. Cintai dia. Berikan perhatian. Kuatkan dia. Sayangi dia. Apalagi kalau kamu dulu pernah cinta kepadanya. Itu lebih mudah lagi. Kadang2 kita menganggap masa pacaran berhenti pada saat kita menikah.. Justru menikah itu adalah pacaran yang seumur hidup. Saat kita menikah, kita tidak lagi melakukan hal2 yang kita lakukan pada saat kita pacaran. Kita tidak pernah jalan berdua lagi, nonton atau makan, atau sekedar jalan2 keliling kota.. Kita tidak pernah ngobrol berdua dengan pasangan kita, selalu ada anak di antara kita.. Kita berhenti melakukan kata kerjanya.. Hasilnya: cinta kata sifatnya ikut menghilang.. kita berhenti mencintai pasangan kita..maka hilanglah perasaan itu...

"Sebaliknya, kalau kita lakukan terus kata kerjanya, lama2 cinta itu akan muncul kembali. Itulah kenapa ada orang yang dijodohkan oleh ortunya,akhirnya bisa mencintai pasangannya juga. Karena dia berusaha melakukan kata kerjanya.. Ia berusaha mencintai pasangannya (tidak ada pilihan lain kan?), dan akhirnya rasa cinta yang sebenarnya timbul..Belum lagi masalah komunikasi..."

Kata2 bapak itu semakin hilang.. Fikiran saya melayang.. Sungguh penjelasannya mencerahkan hati saya.. Saya jadi yakin: tidak perduli bagaimana rasa cinta itu belum datang, atau sudah hilang, selama saya melakukan kata kerjanya.. saya akan merasakan cinta itu (kembali) pada akhirnya...

"Sungguh wanita itu diciptakan bukan dari tulang ubun2, karena dia akan sombong karena puja dan puji..
Juga bukan diciptakan dari tulang kaki, karena dia bukan untuk dihina dan dicaci maki..
Dia diciptakan dari tulang rusuk: dekat tangan untuk dilindungi, dekat hati untuk disayangi.."

GBu^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar