Jumat, 08 Oktober 2010

burung angsa di musim dingin

Ada seorang atheis yang benar-benar tidak bisa menerima tentang Allah yang menjadi manusia. la tidak hanya tidak percaya, tetapi juga mentertawakan ide yang dianggapnya hanya omong kosong belaka. Pada suatu hari menjelang musim dingin ia duduk di tepi jendela. la melihat langit yang mulai gelap dan menghitam. Sebentar lagi akan ada angin badai. Sesaat kemudian ia melihat serombongan burung angsa terbang menuju tempat yang lebih aman. la melihat bahwa burung-burung angsa ini tidak mungkin selamat dari badai yang sebentar lagi akan datang. Maka ia ke luar dan menuju ke gudangnya. la membuka pintu gudangnya dan kemudian melambai-lambai dan berseru memanggil rombongan burung angsa yang sedang terbang di dekat rumahnya. la berusaha dengan berbagai macam cara. la berteriak sekeras-kerasnya. Sayang rombongan burung angsa itu tidak mendengarkan. Mereka tidak bersedia masuk gudang yang pintunya sudah dibuka lebar-lebar. Burung-burung angsa itu justru takut dan menjauh dari orang yang berusaha menolongnya. Akhirnya badai datang dan orang ini merenung di rumahnya. Seandainya ia bisa menjadi burung angsa dan tahu bahasa mereka, ia bisa menyelamatkah burung-burung itu dari angin badai. Dalam kesedihan dan ketermenungannya ia teringat apa yang selama ini tidak ia percayai, bahkan yang ia tertawakan. Allah menjadi manusia ternyata bukan omong kosong belaka. Karena Allah mengasihi dan ingin menyelamatkan manusia, maka la rela menjadi manusia. Kejadian itu mengubahnya menjadi orang yang percaya mengapa Allah harus menjadi manusia.

 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar